![]() |
Diperkosa Awalnya Sakit Hingga Ketagihan |
Cerita Seks - Suasanna haru mengirnigi perceraian orangtuaku, itu aku sangat terpuruk atas kejadian naas, aku tidak lagi percaya semua itu. Tapi mereka semua tetap suport aku untuk selalu belajar aku menatap kehidupan yang sangat cerah dan terarah.
Tidak seperti kisah orang tuaku yang gagal dalam membina rumah tangga, anak nya "aku" menjadi korban atas ke egoisan mereka. Tapi aku terima dengan ikhlas dengan apa yang sedang menimpaku berharap ada sebuah keajaiban pada akhirnya.
Hingga aku berhasil dalam memasuki pergurang tinggi negri kedua orangtuaku bangga sama aku dan aku pun senang sekali walaupun mereka tidak bersama aku lagi. Keluargaku saat itu hidup berkecukupan.
Ayahku yang berkedudukan sebagai seorang pejabat teras sebuah departemen memang memberikan nafkah yang cukup bagiku dan ibuku, walaupun ia bekerja secara jujur dan jauh dari korupsi, tak seperti pejabat-pejabat lain pada umumnya. Cerita Dewasa Pemerkosaan.
Baca Juga : Seorang Gadis Perawat Rumah Sakit
Dari segi materi, memang aku tidak memiliki masalah, begitu pula dari segi fisikku. Aku akui bahwa wajah aku ini terbilang sangat canti, hidung bangir, mata indah, serta dada yang membusung walau tidak terlalu besar ukurannya.
semua itu di tambah dengan tubuhku yang tinggi semampai, sedikit lebih tinggi dari rata-rata gadis seusaiku, memang membuatku lebih menonjol di bandingkan yang lain. Bahkan aku menjadi mahasiswi baru primadona di kampus.
Akan tetapi karena ada nya pengawasan orang tuaku yang sangat ketat di samping pendidikan agamaku yang cukup kuat, aku pun menjadi seperti anak mama. Tidak seperti remaja-remaja pada umumnya, aku tidak pernah pergi keluyuran keluar rumah tanpa temani ayah dan ibu.
Namun setelah peceraian itu telah terjadi, dan aku pun telah ikut Bandarkiu ibuki yang menikah lagi dua bulan kemudian dengan duda berputra satu, seorang pengusaha restoran yang cukup sukses, aku mulai berani pergi keluar rumah tanpa didampingi salah satu dari orangtua aku. Itupun masih jarang sekali.
Bahkan ke diskotik pun aku hanya pergi sekali saja. Itu juga setelah di bujuk rayu oleh seorang laki-laki teman kuliahku. Setelah itu aku kapok.
Mungkin karena baru pertama kali aku pergi ke diskotik, baru saja duduk sepuluh menit, aku sudah merasakan pusing, tidak tahan dengan suara musik disko yang sangat keras berdentam-dentam, di tambah dengan bau asap rokok yang memenuhi ruangan diskotik tersebut.
"Don, kepala gue pusing. Kita pulang saja yuk."
"Alaa, Mer. Kita kan baruy sampai di sini. Masa belum apa-apa sudah minta pulang. Rugi kan. Lagian kan masih sore."
"Tapi gue udah tidak tahan lagi."
"Gini deh, Mer. Gue kasih elu obat penghilang pusing.
Temanku itu memberikanku tablet yang berwarna putih. Aku pun langsung menelan obaty sakit kepala yang di berikannya.
"Gimana sekarang rasanya? Enak kan?"
Aku mengangguk. Memang rasanya kepalaku sudah mulai tidak sakit lagi.Tapi sekonyong-konyong mataku berkunang-kunang. Semacam alirang aneh yang menjalari sekujur tubuhku. Antara sadar atau tidak sadar, aku lihat temanku itu tersenyum. Aku rasakan ia memapahku keluar diskotik. "Ini cewek lagi mabuk", kata nya kepada petugas keamanan diskotik yang menanyainya. Lalu ia menjalankan mobilnya ke sebuah hotel yang tidak begitu jauh dari tempat diskotik.
Setiba di hotel, temanku memapahku yang terhuyung-huynng masuk ke dalam sebuah kamar dan dia pun membaringkan tubuhku yang tampak menggliat-liat di atas ranjang. Kemudian ia menindih tubuhku yang tergeletak yang sudah tidak berdaya di kasur. Temanku dengan gemas nya dia mencium bibirku yang mereka mengundang.
Kedua belah buah dadaku yang ranum dan kenyal merapat pada dadanya. Darah kelaki-lakiannya dengan cepay senakin tergugah untuk menggagahiku "Ouuhhh... Don!" desahku.
Temanku meraih tubuhku yang ramping. Dia segera mendekapku dan mengulum bibirku yang ranum. Lalu diciuminya bagian telinga dan leherku aku pun mulai menggerinjal-gerinjal. Sementara itu tanganya mulai membuka satu persatu kancing blus yang kupakai. Kemudian dengan sekali sentakan kasar, ia menarik lepas tali BH-aku, sehingga tubuh bagian atasku terbuka sangat lebar, siap untuk di jelajahi.
Tangannya mulai meraba-rab buah dadaku yang berukurang cukup besar itu terasa suatu kenikmatan tersendiri pada syarafku ketika buah dadaku di permainkan olehnya.
"Don... Ouuhhh... Ouuhhh..." rintihku saat tangan temanku sedang asyik menjamah buah dadaku.
Tidak lama kemudian tangan nya setelah puas berpetualang di buah dadaku sebelah kiri, kini ia berpindah ke buah dadaku yang satu nya lagi, sedangkan lidah nya masih menggumuli lidahku dalam ciuman-ciumannya yang penuh desakan nafsu yang semakin menjadi-jadi.
Lalu dia menanggalkan celana panjangku tampaklah pahaku yang putih dan mulus itu. Matantya terbelalak melihat. Temanku itu mulai menyelusupkan tangan nya ke balik celana dalamku yang berwarna kuning muda.
Dia mulai meremas-remas kedua belah gumpalan pantatku yangb memang montok itu.
"Ouh... Ouuh... jangan, Don! Jangan! Ouuhhh..."jeritku ketika jari-jemari temanku mulai menyentuh bibir kewanitaanku.
Namun jeritanku itu tidak diindahkannya, sebaliknya ia menjadi semakin bergairah. Ibu jari nya mengurut-urut klitorisku dari atas ke bawah berulang-ulang. Aku pun semakin menggerinjal-gerinjal dan berulang kali menjerit. Kepala temanku turun kearah dadaku. Dia menciumi belahan buah dadaku yang laksana lembah di antara dua buah gunung yang menjulang tinggi.
Aku yang seperti tersihir, semakin menggerinjal-gerinjal dan merintih tatkala ia menciumi ujung buah dadaku yang kemerahan. Tiba-tiba saja aku seperti terkejut ketika lidahnya mulai menjilati ujung puting susuku yang tidak terlalu tinggi tapi mulai mengeras dan tampak menggiurkan.
Seperti mendapatkan kekuatanku kembali, segera kutampar wajahnya. Temanku itu yang kaget terlempar ke lantai. Aku segera mengenakan pakaianku kembali dan berlari keluar kamar. Ia hanya terpana memandangiku. Sejak saat itu aku bersumpah tidak akan pernah mau ke tempat-tempat seperti itu lagi.
Sudah dua tahun berlalu aku dan ibuku hidup bersama dengan ayah dan adik tiriku, nama nya Rio yang umur nya masih 3 tahun lebih muda dariku. Kehidupan kami berjalan normal seperti Agenqq layak nya keluarga bahagia.
Aku pun yang saat itu sudah di semester enam kuliahku, diterima bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta nasipnal papan atas. Meskipun aku belum selesia kuliah namun berkat penampilanku yang menarik dan keramah-tamahanku, aku bisa di diterima disitu, sehingga seragam baju atas berwarna putih agak rem, dengan blazer merah yang sewarna dengan rokku yang ujungnya sedikit di atas lutut.
Sampai suatu saat, tiba-tiba ibuku terkena serangan jantung. Setelah diopname selama dua hari, ibuku wafat meninggalkan aku. Rasanya seperti langit runtuh menimpaku saat itu. Sejak itu, aku hanya tinggal bertiga dengan ayah tiriku dan Rio.
Sepeninggal ibuk, sikap Rio dan ayahnya mulai berubah. Mereka berdua beberapa kali mulai bersikap mulai kurang ajar sama aku, terutama Rio. Bahkan suatu hari saat aku ketiduran di sofa yang di karenakan kecapaian bekerja di kantor, tanpa kusadari ia memasukkan tangannya kedalam rok yang ku pakai dan meraba paha dan selangkanganku.
Ketika aku terjaga dan memarahinya, Rio malah mengancamku. Kemudian ia bahkan melepaskan celana dalamku tetapi untung saja, setelah itu ia tidak berbuat lebih jauh. Ia hanya memandangi kewanitaanku yang belum banyak di tumbuhi bulu sambil menelan air liurnya. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkanku yang langsung saja merapikan pakaianku kembali. Selain itu, Rio Sering kutangkap basah mengintip tubuhku yang sedang bugil sedang mandi melalui lubang angin kamar mandi.
Aku masih berlapang dada menerima segala perlakuan itu. Pada saat itu juga aku baru saja pulang kerja dari kantor. Ah, rasanya hari ini lelah sekali. Tadi di kantor seharian aku sibuk melayani nasabah-nasabah bank temaptku bekerja yang menarik uang secara besar-besaran.
Entah karena apa, hari ini bank tempatku bekerja terkena rush. Ingin rasanya aku langsung mandi. Tetapi kulihat pintu kamar mandi tertutup dan sedang ada orang yang mandi di dalamnya.
Kubatalkan niatku untuk mandi. Kupikir sambil menunggu kamar mandi kosong, lebih baik aku berbaring dulu melepaskan penat di kamar. Akhirnya setelah melepas sepatu dan menanggalkan blazer yang kukenakan, aku pun langsung membaringkan tubuhku tengkurap di atas kasur di kamar tidurnya.
Ah, terasa nikmatnya tidur di kasur yang demikian empuknya. Tidak Terasa, karena rasa kantuk yang tidak tertahankan lagi aku pun tertidur tanpa sempat berubah posisi. Aku tak menyadari ada seseorang membuka pintu kamarku dengan perlahan-lahan, hampir tidak ada suara. Orang itu lalu dengan menggendap-endap menghampiriku yang masih terlelap.
Kemudian ia naik keatas tempat tidur. Tiba-tiba ia menindih tubuhku yang masih tengkurap, sementara tangan nya meremas-remas belahan pantatku. Aku seketika itu juga bangun dan meronta-ronta sekuat tenaga.
Namun orang itu lebih kuat, ia melepaskan rok yang kukenakan kemudian dengan secepat kilat, ia menyelipkan tangan nya kedalam celana dalamku. Dengan ganasnya, ia meremas-remas gumpalan pantatku yang sangat montok itu. Aku pun semakin memberontak sewaktu tangan orang itu mulai mempermainkan bibir kewanitaanku dengan ahlinya. Sekali-kali aku mendelik-delik saat jari telunjuknya dengan sengaja berulang kali menyentil-nyentil klitorisku.
"Aahh! Jangaann! Aaahh...!" Aku berteriak-teriak keras ketika orang itu menyodohkan jari telunjuk dan jari tengah nya sekaligus kedalam kewanitaanku yang masih sempit itu, setalah celana dalamku di tanggalkannya.
Akan tetap ia mengacuhkanku. Tanpa mempedulikan aku yang terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit kesakitan, jari-jarinya terus menerus merambahi lubang kenikmatanku itu, semakin lama semakin tinggi intensitasnya.
Aku bersyuku dalam hati waktu orang itu menghentikan perbuatan gilanya akan tetapi tampak nya itu tidak bertahan lama. Dengan hentakan kasar, orang itu membalikkan tubuhku sehingga tertelentang menghadapnya. Aku terperanjat sekali mengetahui siapa orang itu sebenarnya.
"Rio... Kamu..." Rio hanya menyeringai buas.
"Eh, Mer. Sekarang elu boleh berteriak-teriak sepuasnya, tidak ada lagi orang yang bakalan menolong elu. Apalagi si nenek tua itu sudah mampus!"
Astaga Rio menyebut ibuku, ibu tirinya sendiri, sebagai nenek tua. Keparat.
"Rio! Jangan, Rio! Jangan lakukan ini! gue kan kakak elu sendiri! Jangan!"
"Kakak? Denger, Mer. Gue tidak pernah nganggap elu kakak gue. Siapa suruh elu jadi kakak gue. Yang gue tau cuma papa gue kawin sama nenek tua, mama elu!"
"Rio!"
"Elu kan cewek, Mer. Papa udah ngebiayain elu hidup dan kuliah. Kan tidak ada salahnya gue sebagai anaknya ngewakilin dia untuk meminta imbalan dari elu. Bales Budi dong!"
"Iya, Rio. Tapi bukan begini caranya!"
"Heh, yang gue butuhin cuman tubuh molek elu, tidak mau yang lain. Gue tidak mau tahu, elu mau kasih apa tidak!"
"Errgh..."
Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Mulut Rio secepat kilat memagut mulutku. Dengan memaksa ia melumta bibirku yang merekah itu, membuatku hampir tidak bisa bernafas.
Aku memcoba meronta-ronta melepaskan diri. Tapi cekalan tangan Rio jauh lebih kuat, membuatku tidak berdaya lagi. "Akh!" Rio kesakitan sewaktu kugigit lidahnya dengan cukup keras.
Tapi, "Plak!" ia menampar pipiku dengan keras, membuat mataku berkunang-kunang. Kugeleng-gelengkan kepalaku yang terasa seperti beruptar-putar.
Tanpa mau membuang-buang waktu lagi, Rio mengeluarkan beberapa utas tali sepatu dari dalam saki celananya. Kemudian ia membentangkan kedua tanganku, dan mengikatnya masing-masing di ujung kiri dan kanan tempat tidur.
Demikian juga kedua kakiku, tak luput diikatnya, sehingga tubuhku menjadi terpentang tak berdaya diikat di keempat arah. Oleh karena itu kencangnya ikatannya itu, tubuhku tertarik cukup kencang, membuat dadaku tambah tegak membusung. melihat pemandangan yang indah ini membuat mata Rio tambah menyalang-nyalang bernafsu.
Tangan Rio mencengkeram kerah blus yang kukenakan. Satu persatu di bukanya kancing penutup blusku. Setelah kancing-kancing blusku terbuka semua, di tariknya blusku itu keatas. Kemudian dengan sekali sentakan di tariknya lepas tali pengikat BH-ku, sehingga buah dadaku yang membusung itu terhampar bebas di depannya.
"Wow! Elu punya toket bagus gini kok tidak bilang-bilang, Mer! Auum!" Rio langsung melahap buah dadaku yang ranum itu. Gelitikan-gelitikan lidahnya pada ujung puting susuku membuatku menggerinjal-gerinjal kegelian. Tapi aku tidak mampu berbuat apa-apa semakin keras aku meronta-ronta tampaknya ikatan tanganku semakin kencang. Sakit sekali rasanya tanganku ini. Jadi aku hanya membiarkan buah dada dan puting susuku dilumat Rio sebebas yang ia suka.
Aku hanya bisa menengadahkan kepalaku menghadap langit-langit memikirkan nasibku yang sial ini.
"Aaarrghh... Rio! Jangaannn..!"
Lamunanku buyar ketika terasa sakit di selangkanganku. Ternyata Rio mulai menghujamkan kemaluannya kedalam ke wanitaanku.
Tambah lama bertambah cepat, membuat tubuhku tersentak-sentaj ke atas. Melihat aku yang sudah tergeletak pasrah, memberikan rangsangan yang lebih dekat lagi pada Rio.
Dengan sekuat tenaga ia menambah dorongan Dominoqq kemaluannya masuk keluar dalam kewanitaanku. Membuatku meronta-ronya tak karuan.
Ürrgh..." Akhirnya Rio sudah tidak dapat menahan lagi gejolak nafsu di dalam tubuhnya. Kemaluannya menyemprotkan cairan-cairan putih kental di dalam ke wanitaanku. Sebagian berceceran di atas sprei sewaktu ia mengeluarkan kemaluannya, bercampur dengan darah yang mengalir dari dalam kewanitaanku, menandakan selaput daraku sudah robek olehnya. Karena kelelahan, tubuh Rio langsung tergolek di samping tubuhku yang bermandikan keringat dengan nafas terengah-engah.
"Braak!" Aku dan Rio terkejut mendengar pintu kamar terbuka di tendang cukup sangat keras sekali. Lega hatiku melihat siapa yang melakukannya.
"Papa!"
"Rio! Apa-apa sih kamu sini?! Cepat kamu bebaskan Merrt!"
Ah, akhirnya neraka jahanam ini berakhir jugam pikirku. Rio mematuhi perintah ayahnya. Segera di bukanya seluruh ikatan di tangan dan kakiku. Aku bangkit dan segera berlari menghambur ke arah ayah tiriku.
"Sudahlah, Mer. Maafin Rio ya. Itu kan sudah terjadi", kata ayah tiriku menenangkan aku yang terus menangis dalam dekapannya.
"Tapi, Pa. Gimana nasib Meriska?
Gimana, Pa? Aaahh... Papaa!"
Tangisanku berubah menjadi jeritan seketika itu juga tatkala ayah tiriku mengangkat tubuhku sedikit ke atas kemudian ia menghujamkan kemaluannya yang sudah di keluarkannya dari dalam celana nya ke dalam kewanitaanku.
"Aaahh... Papaa... Jangaaan!" Aku meronta-ronta keras. Namun dekapan ayah tiriku yang begitu kencang membuat rontaanku itu tidak berarti apa-apa bagi dirinya.
Ayah tiriku semakin ganas menyodok-nyodokkan kemaluannya kedalam kewanitaanku. Ah! Ayah dan anak sama saja, pikirku, begitu teganya mereka menyetubuhi anak dan kakak tiri mereka sendiri.
Aku pun menjerit panjang kesakitan sewaktu Rio yang sudah bangkit dari tempat tidur memasukkan kemaluannya ke dalam lubang anusku.
Aku merasakan rasa sakit yang hampir tak tertahankan lagi. Ayah dan kakak tiriku itu sama-sama menghunjam tubuhku yang tidak berdaya dari kedua arah, depan dan belakang. Akibat kelelahan bercampur dengan kesakitan yang tidak terhingga akhirnya aku tidak merasakan apa-apa lagi, tak sadarkan diri. Aku sudah tidak ingat lagi apakah Rio dan Ayahnya masih mengagahiku atau tidak setelah itu.
Beberapa bulan telah berlalu. Aku merasa mual dan berkali-kali muntah di kamar mandi. Akhirnya aku memeriksakan diriku ke dokter. Ternyata aku dinyatakan positif hamil. Hasil diagnosa dokter ini bagaikan gada raksasa yang menghantam wajahku. Aku mengandung?
Kebingungan-kebingungan terus menerus menyelimuti benakku. Aku tidak tahu secara pasti, siapa ayah dari anak yang sekarang ada di kandungku ini. Ayah Tiriku atau Rio.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar